Menu

Bolehkah Tunangan dalam Islam?

Ummi, Nanda adalah akhwat berusia 20 tahun. Akhir-akhir ini banyak masalah yang meresahkan Nanda. Semua itu bersumber pada status Nanda yang bertunangan. Beberapa hal yang ingin Nanda tanyakan adalah:

Apakah ada dalil khusus mengenai tidak diperbolehkan bertunangan dalam agama Islam?
Bagaimana hukumnya, kalau Nanda meminta waktu 2-3 tahun untuk menyelesaikan kuliah?
Ummi, apakah Nanda berdosa, karena menerimanya tanpa salat istikharah terlebih dahulu? Apalagi ibu Nanda pernah berpesan, jangan sampai menolak lamaran orang pertama, nanti akan sial. Apa saran Ummi?
Bagaimana pandangan Islam, kalau Nanda selalu menolak untuk berkunjung menemui ibunya? Bagaimana solusi terbaiknya?
Nanda Yn, Lampung

Jawaban Syari’at:

Pertunangan yang Nanda lakukan merupakan kebiasaan yang banyak terjadi di masyarakat. Tunangan fungsinya sama dengan lamaran atau khitbah. Biasanya tunangan ini bentuk formalnya berupa permintaan dari pihak laki-laki dan keluarganya kepada pihak wanita dan keluarganya. Tunangan dalam Islam disebut dengan khitbah yang secara harfiah artinya permintaan dari pihak laki-laki kepada pihak wanita agar terjalin ikatan awal sebelum pernikahan antara kedua belah pihak. Apabila pihak wanita merasa cocok maka dapat menerimanya begitu juga sebaliknya. Khitbah ini disyariatkan dan dianjurkan oleh Islam seperti yang disebutkan dalam hadis: “Janganlah seorang laki-laki mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah laki-laki lain.”

Jika setelah khitbah ternyata masing-masing tidak cocok, maka kedua belah pihak dapat membatalkannya dengan cara yang baik. Khitbah atau tunangan hanya merupakan ikatan awal dan sama sekali tidak menjadi pembenaran hubungan yang intim atau pacaran. Hubungan semacam itu terlarang sebelum akad nikah dilakukan.

Sebaiknya rentang waktu khitbah dan tunangan tidak terlalu lama agar tidak menimbulkan fitnah dan kedua belah pihak tidak melakukan hubungan yang tidak dibenarkan oleh Islam. Jika sudah merasa cocok segeralah menikah.

Kalau memang Nanda sudah mantap dengan dia sebaiknya segera serius membicarakan pernikahan. Kalau tidak berencana menikah dalam waktu dekat, sebaiknya pertunangan dibatalkan saja. Insya Allah jika ikhtiar Nanda dilakukan sesuai dengan rida-Nya maka suatu saat jodoh datang kepada Nanda sesuai rahmat dan keberkahan-Nya.

Salat istikharah hukumnya sunah sehingga tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi, dilihat dari kepentingannya maka sebelum memutuskan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan hendaknya dilakukan salat istikharah. Kemudian Nanda tidak wajib mengunjungi keluarganya karena akan menimbulkan fitnah. Solusi bagi Nanda adalah salat istikharah kemudian tetapkan keputusan menikah atau tidak dengan dia.

Jawaban Psikolog:

Nanda Yn, usia 20 tahun memang usia yang cukup kritis. Segala keinginan dan harapan sering berbenturan dengan keadaan nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kadang kala membuat kita bingung menentukan langkah. Masa remaja akhir ini (late adolescence) memang didominasi oleh keinginan untuk bersikap idealis di satu sisi, namun juga mampu bertindak realitis di sisi lain.

Ada beberapa hal yang sebaiknya mendasari cara berpikir Nanda untuk memecahkan persoalan ini:

Nanda perlu memiliki pemahaman yang tepat mengenai hukum bertunangan, sesuai dengan kaidah dalam ajaran Islam. Sejauh yang Ummi ketahui, tunangan hanya merupakan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Apakah lamaran dari seseorang berdosa bila ditolak? Begini, seorang wanita perlu ditanyakan kesediaannya sebelum akhirnya wali (orang tua) nya menyatakan menerima lamaran seseorang. Tentu saja bila wanita tersebut tidak berkenan, dia boleh menolaknya.

Ummi melihat masalah yang juga mendasar yang Nanda miliki adalah keterampilan Nanda berkomunikasi dengan orang tua. Sangat penting Nanda memiliki keterbukaan dalam berkomunikasi, karena hal itu akan membuat Nanda terhindar dari perbedaan pendapat. Caranya:

– Manfaatkan waktu yang tepat untuk berbicara dengan ibu Nanda. Nanda dapat memulai dari obrolan yang ringan-ringan dahulu.

– Pahami dengan baik pertimbangan yang melandasi cara berfikir ibu Nanda, mungkin karena ibu khawatir anaknya nanti menjadi ‘perawan tua’ atau kecemasan lainnya. Nah, bila sudah Nanda ketahui penyebabnya, tentu lebih mudah bagi Nanda untuk memutuskannya.

– Ajaklah ibu untuk lebih sering mengkaji ajaran Islam dengan berbicara tentang ajaran Islam dalam penerapan kehidupan sehari-hari secara ringan.

– Bila hubungan Nanda dengan ibu cukup dekat, tentu hal ini tidak terlalu sulit dilakukan. Bila tidak, Nanda harus sabar dalam membina hubungan ini.

– Seandainya masih sulit juga, Nanda tentu dapat meminta tolong orang yang cukup didengar oleh orang tua Nanda.

Meski status Nanda bertunangan, namun Nanda dan ikhwan tersebut belum memiliki hubungan resmi. Oleh karena itu Nanda tetap harus menjaga diri dan pergaulan. Jelaskan mengapa Nanda merasa berkeberatan bila harus berkunjung ke rumahnya.
Bagaimana Sikap yang Dilakukan Ketika Mengetahui Calon Suami Berzina?

Ummi, sudah satu tahun Nanda dekat dengan seorang laki-laki yang saya tahu dia baik, rajin salat dan akan menikahi saya tahun ini. Dia mengaku sudah putus dengan pacarnya dan berdasar informasi yang saya cari memang demikian.

Akan tetapi, kemudian ada wanita yang mengaku bekas pacarnya dan mengatakan baru 6 bulan lalu mereka sepakat jalan masing-masing. Namun, menurut wanita itu, karena saling menyayangi mereka masih jalan. Hal yang paling menyakitkan, katanya mereka sering berhubungan badan. Ketika Nanda klarifikasi ke laki-laki itu, dia bilang tidak pernah melakukan itu.

Hal yang saya ingin tanyakan;

Bagaimana saya menyikapi persoalan tersebut karena keluarga Nanda sudah mempersiapkan pernikahan kami?
Laki-laki itu masih tetap ingin menikah dengan saya. Apakah Nanda harus menerimanya?
Kirna, Bumi Allah

Jawaban Syari’at:

Kirna yang dirahmati Allah.

Pernikahan itu suatu ibadah yang sakral dan mempunyai makna yang besar dalam kehidupan. Sebab pernikahan, Nanda jadi terikat oleh hubungan suami istri. Selain itu, kualitas agama Nanda ditentukan oleh kualitas agama suami sebab dia pemimpin, pengarah, petunjuk dan teladan bagi Nanda setiap hari. Bahkan kualitas generasi yang dilahirkan oleh Nanda juga ditentukan oleh kualitas agamanya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya yang hendak menikah agar memilih calon pasangan berdasarkan agama dan akhlaknya. Beliau bersabda: “Apabila datang kepadamu orang (melamar) yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia”.

Apabila Nanda menikah dengan seseorang karena kebaikan agama dan akhlaknya, maka pernikahan itu sudah bisa memenuhi separuh agama. Kemudian Nanda juga harus tegas dalam memutuskan. Kalau Nanda ingin mendapatkan ketenangan dalam kehidupan rumah tangga, maka jangan ada orang ketiga yang akan mengganggu rumah tangga Nanda.

Memang dalam kondisi sekarang Nanda tidak bisa menentukan siapa yang jujur. Akan tetapi, yang jelas berita buruk seperti itu tidak akan pernah sampai kepada Nanda kalau mereka tidak pernah pacaran. Kalau dia pria yang saleh, maka dia akan berhati-hati dalam bergaul dan tidak melakukan ha-hal yang dapat menimbulkan fitnah. Fitnah yang ada sekarang ini tentu karena ada sebab-sebabnya.

Keputusan yang Nanda buat jangan sampai merugikan diri Nanda. Bicarakanlah masalah ini dengan orang tua dan katakanlah kepada mereka bahwa pria itu tidak sesuai dengan kriteria Nanda. Selain itu Nanda juga tidak ingin menikahi orang yang punya masalah dengan wanita lain. Batalkanlah rencana pernikahan Nanda dan sampaikan keputusan Nanda dengan cara yang baik. Ummi doakan semoga Nanda bisa tegas dalam memberikan keputusan dan suatu saat Nanda akan mendapatkan jodoh yang saleh, diberkahi dan diridai Allah SWT. Amin.

Jawaban Psikolog:

Nanda Kirna yang Ummi sayangi, memang tidak cukup menilai kesalehan seseorang hanya dari perilaku baik yang ia tunjukkan. Namun, kita tetap bisa memperoleh informasi tentang calon suami kita tanpa berpacaran.

Bila seseorang itu baik, di lingkungan masyarakatnya ia mudah dikenal sebagai orang saleh. Nah, yang penting bagi Nanda adalah mendapatkan informasi yang akurat tentang bagaimana laki-laki itu sebenarnya. Bisa lewat keluarganya, atau lewat teman-teman dekatnya. Biasanya kita akan mengenal bagaimana sifat, karakter, kebiasaan dan akhlak seseorang dari teman-teman bergaulnya.

Hemat Ummi, nampaknya Nanda perlu memperhatikan informasi yang disampaikan wanita tersebut. Tentunya Nanda masih perlu melengkapi dengan bukti-bukti yang lebih kuat.

Alangkah baiknya Nanda pun membicarakan hal ini kepada kedua orang tua dan meminta pertimbangan mereka. Orangtua tentu punya pandangan yang lebih bijaksana dalam menyikapi persoalan serupa. Bila Nanda ragu-ragu, kemukakan saja pada laki-laki itu, tentu dengan cara yang baik. Mintalah bantuan orang tua untuk menyampaikannya. Bila terpaksa proses pernikahan ini akhirnya harus ditunda atau bahkan dibatalkan.

Bisa jadi memang Allah ingin menunjukkan kepada Nanda siapa laki-laki itu sebenarnya, sehingga meski terasa pahit untuk Nanda, namun aibnya terbuka menjelang pernikahan Nanda. Memang sakit sekali rasanya, tetapi akan lebih sakit lagi bila Nanda mengetahuinya justru setelah Nanda terikat dalam mahligai pernikahan. Yakinlah, insya Allah Nanda akan diberi pengganti yang lebih baik. Jangan sampai Nanda mempertaruhkan masa depan bila ternyata Nanda tidak meyakini ketulusan calon pendamping Nanda.(Ummii-Online.com)

Categories:   Religi

Comments